Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2021

Dua

Aku selalu jadi korban, setiap hari menyesakkan  Tinggal dengan ayah yang tak melihat anaknya, kecuali masalah memelukku. Aku selalu jadi korban, seperti hari ini setelah satu jam menunggu,kamu akhirnya datang. tersenyum.paksa. "Udah lama",jelas itu rhetoric,jawabannya adalah senyuman,''iya''. Kamu lalu duduk,menatap langit "Langitnya indah,yah?",selalu mengagumkan melihat mu berbasa-basi,aku tersenyum.mengangguk. Langit berubah wujud,seperti landak yang mengubah warnanya ditengah perhatian. Benar perhatian kami terlalu tertuju pada langit,satu jam lamanya.yah,kami selalu begini.hubungan yang aneh.namun telah bertahan lebih lama dari pernikahan vp. "Aku mau ngomong,bi",selalu kamu membuka percakapan,walau kali ini,dibuka dengan kalimat yang selalu orang sebut menyebalkan, kalimat yang jelas hanya formalitas.yang cukup menjelaskan apa yang akan terjadi selajutnya. "Tentu,mau ngomong apa?",inipun jawaban formalnya. "Aku.."...

Satu

Nak,cukup",ucap seorang lelaki paruh baya pada anak perempuan seusiaku,yang nampaknya adalah anak lelaki itu,anak itu mengacuhkannya.terus melanjutkan kegiatannya,menangis.menangisi mayat didepannya. "Nak,sudah,nak.jangan menangis lagi",yah,itulah ayah,tidak pernah menyerah meredakan tangis anak perempuan.walau ia tahu, itu hanya akan jadi klise dihadapan kematian.dan sekali lagi,anak itu mengacuhkannya.ia menangis. "Nak...",sang ayah tak menyelesaikannya,ia sangat tahu betapa menyakitkan kematian.anak tetap menangis,memang sedih ditinggalkan,bukan hanya karena tak ada lagi pertemuan,tapi juga adanya penyesalan. "Nak,ayah...",belum selesai kalimat ayah,seorang laki-laki mendatanginya,berbisik.ayah meresponnya dengan kebingungan,lalu mengikuti laki-laki itu keluar.anak tak menyadarinya,ia sibuk menangis. Anak memegang tangan mayat itu,membenamkan wajahnya,membuat tangisnya tertahan,hanya isak yang terdengar,nafas yang tertahan pelan berucap "Ayah,...