Satu

Nak,cukup",ucap seorang lelaki paruh baya pada anak perempuan seusiaku,yang nampaknya adalah anak lelaki itu,anak itu mengacuhkannya.terus melanjutkan kegiatannya,menangis.menangisi mayat didepannya.

"Nak,sudah,nak.jangan menangis lagi",yah,itulah ayah,tidak pernah menyerah meredakan tangis anak perempuan.walau ia tahu, itu hanya akan jadi klise dihadapan kematian.dan sekali lagi,anak itu mengacuhkannya.ia menangis.

"Nak...",sang ayah tak menyelesaikannya,ia sangat tahu betapa menyakitkan kematian.anak tetap menangis,memang sedih ditinggalkan,bukan hanya karena tak ada lagi pertemuan,tapi juga adanya penyesalan.

"Nak,ayah...",belum selesai kalimat ayah,seorang laki-laki mendatanginya,berbisik.ayah meresponnya dengan kebingungan,lalu mengikuti laki-laki itu keluar.anak tak menyadarinya,ia sibuk menangis.

Anak memegang tangan mayat itu,membenamkan wajahnya,membuat tangisnya tertahan,hanya isak yang terdengar,nafas yang tertahan pelan berucap
"Ayah,maafin,ade...",

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Pertama

Sakieu Hungkul, Kok (Hari ke-2)