Survey Next School
Saya sering bertanya-tanya, "sedang apa aa sekarang?"
"Apa yang sedang dia pikirkan?"
"Buku apa yang sedang dia baca?"
"Apa dia lelah?"
Dan pertanyaan lainnya hanya seperti yang biasa saya tanyakan ketika dia pulang.
Pertanyaan ringan dari seorang ibu yang masih harus menata hati saat berjauhan dengan buah hatinya.
Tidak ikhlas? Tentu saja tidak. Ingat dan mengingatnya bukan berarti tidak mengikhlaskan.
Khawatir? Saya yakin dia berada di tempat yang tepat dan aman dengan asatidz yang amanah untuk dia, jadi khawatir bukanlah kata yang tepat untuk menggambarkan pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak saya tersebut.
Ah, hati ini tetaplah hati seorang ibu...
Mencari sekolah dengan guru yang tepat untuk sulung bukan hal yang mudah bagi kami. Banyak keunikan dan kekhasan sulung yang akan sulit difahami ataupun 'ditolerir' orang dewasa yang tidak bisa memahami dia. Pola pikirnya, cara dia memandang sesuatu, 'idealismenya', dan mungkin gaya bicaranya dan bahkan sikap diamnya yang meski cenderung biasa tapi bisa diartikan luar biasa bagi orang-orang yang sulit berhadapan dengannya.
Dari sekian pilihan yang kami tawarkan, dia memilih untuk mondok di pondok pesantren. Alasannya cukup sederhana, tapi terasa istimewa bagi kami, dia ingin mempelajari bahasa Arab, bahasa Al Qur'an Al Karim. Karena itulah, jauh-jauh hari sebelum dia menyelesaikan pendidikan madrasah ibtidaiyah nya, kami survey ke banyak tempat demi mendapatkan pondok yang kami yakini paling tepat untuk dia.
Satu, dua, tiga, dan entah berapa banyak pondok pesantren yang kami datangi saat survey untuk sekolahnya dulu. Semuanya bagus dalam pandangan kami. Tapi bagus dalam pandangan orang tua belum tentu tepat untuk anak-anak.
Beberapa hal yang menjadi ukuran kami saat mencari pondok buat dia selalu kami pegang. Di samping aqidahnya yang haruslah lurus, kami mencari guru yang tepat untuk sulung. Kurikulum pendidikan juga menjadi pertimbangan kami, dan satu hal yang sering saya ingat dari guru sulung waktu di Fatimah Az-zahra, " carilah pondok yang bukan hanya tempat penitipan anak saja. Pondok yang membuat anak-anak memahami hidup yang sebenarnya, bukan hidup yang serba dilayani."
Hingga akhirnya taqdir Allah mengajak kami berjumpa ustadz Sabiq di PPI 32 di saat-saat terakhir pendaftaran sekolah, setelah berbincang agak panjang dengan beliau akhirnya kami sampai pada satu kesimpulan, "ini pondok pesantren yang paling tepat untuk aa. Alhamdulillah aa sudah bertemu guru yang tepat insyaAllah."
Mengingat Aa, bertanya-tanya tentang apa yang Aa lakukan sekarang bukan berarti tidak mengikhlaskannya disana. Kami yakin dia berada di tempat yang tepat untuk dia, bersama teman-teman dan Asatidz yang paling tepat insyaAllah.
Terima kasih, Jazakumullah Ahsanul Jaza kanggo Asatidz #ppi32 juga untuk semua yang dengan sabar mendampingi Aa belajar banyak hal yang perlu Aa pelajari. Allah sebaik-baik pemberi balasan.
Balananjeur, 28 November 2017
Komentar
Posting Komentar